Jumat, 30 September 2011

Story Pudding for Wedding: Bad Things mean Blessing

so sweet.. :)

Diprovokasi sama Puteri Hujan, dan Adek Pooh buat ikutan Story Pudding for Wedding, dan dengan sedikit tergiur oleh iming-iming hadiah --^^  hadiah memang selalu bisa memotivasi orang untuk melakukan hal-hal yang malas mereka lakukan, apalagi emak-emak malas seperti diriku ini.
Meski agak bingung, sebingung sejarah pernikahan kami, tapi kita coba saja. Seperti orang-orang bilang, we’ll never know until we try (maksudnya sapa tahu bisa menang dan dapat hadiah kalo dicoba..teuteub ngareeep haha). So, here we go aja deh…

Masih ingat film berjudul singkat, cuma dua huruf, 'UP'. Filmnya baguuus banget (setidaknya menurutku), sampai bikin diriku termehek-mehek saking terharunya. Film ini berkisah tentang mimpi yang tertunda (bukan tertunda karena malas kaya diriku ini, tapi memang lebih karena keadaan), kehilangan orang yang dicintai dan kekecewaan yang kadang membawa berkah memang tak mudah. Menyederhanakan konsep yang rumit itu bukan sebuah pekerjaan mudah, tapi Pixar menyajikannya dengan apik—four thumbs up! Maaf kalo sedikit beraroma ^^

Lho kok bahas ‘UP’???
Tenang, tenang…mari kita berlanjut pemirsa :)

Nonton film ‘UP’ identik dengan keharuan dan cinta dalam pernikahan yang luar biasa. Menyampaikan pesan
bahwa kondisi terburuk tak selamanya buruk. Hmmm maksudnya??? *garuk garuk kutu-kutu kena fitnah^^
Maksudnya, bahwa hal-hal yang kita anggap buruk, episode hidup yang kadang dirasa sulit, kekecewaan yang kadang tak bertemu jawabnya, impian dan cita-cita yang tampak tak mungkin untuk diraih--sepertinya perlu berhenti nih sebelum berlanjut ke tahap hiperbola—terkadang menyimpan kejutan yang menyenangkan.
Hanya saja, seringkali kita terlalu serius menanggapi kehidupan ini..(duuh udah kaya band deh)
Balik ke kuis…FOKUUUSSS! Jadi ingat lagi awal-awal pernikahan kami (diriku dan kanda yang jadi suamiku sekarang dan semoga selamanya—luv u kanda ^^)

Kalau inget dulu, rasanya gak mungkin nikah sama kanda, ayahnya naafi. Saat itu, soalnya diriku ini sudah dalam tahap akan menikah dengan orang lain, sebut saja Mas Bunga—bukan nama sebenarnya hehe, dan kandaku kayanya demikian juga, kayanyaa siih hehe (haaaa..jadi kepikiran pengen nanya, bole kan kanda tring tring ^^). Rencana persiapan pernikahan s.d. acara pernikahan yang ditargetkan 6 bulan saja, berlanjut dengan penundaan bertahap sehingga setelah lewat masa hampir 2 tahun, acara pernikahan tetap berada di ranah WACANA dan PERSIAPAN. Tapi tetep dijaga ya, secara beda kota, jadi selama 2 tahun itu ketemu paling yah gak sampe 7 kali deh..

Anyway, meski upaya, doa, dan ikhtiar telah dilakukan. Berbagai alasan penundaan terus bermunculan, awalnya bisa dipahami karena alasan yang memang jelas, namun setelah sekian lama  yang akhirnya dipahami semua berakar dari keberatan Ibu-nya mas Bunga itu terhadap perbedaan usia kami. Banyak kericuhan terjadi, sampai akhirnya ortu bertanya-tanya, dan berakhir dengan ketersinggungan dengan panjangnya proses ini. Ditambah adanya masalah keluarga yang pelik, saat itu kupikir kenapa Allah mengiringkan niat baik dengan kesulitan-kesulitan yang bertumpuk seperti ini. (Egoisme manusia..kalo lagi susah langsuung deh nyalah-nyalahin Allah hehe) Di tengah kekalutan itu, rasanya tinggal di kantor dan membenamkan diri dalam pekerjaan lebih menyenangkan ketimbang pulang ke rumah.

Proses itu pun berhenti, karena kurasa melanjutkan proses rencana pernikahan dengan mas Bunga itu hanya akan menyakiti Ibuku dan ibunya jg. Kenapa eh kenapa??? Karena eh karena seperti sudah ditulis, Mamanda tersinggung, dalam pikir mamaku  “Kaya kamu nggak laku aja, yang main sini juga banyak, pilih aja yang lain” (padahal itu mah cm temen minta diajarin bahasa inggris kalo gak numpang makan-makan…faktanya emang iya sih kayanya gak laku miiiih hihihihi, duuh maafkan daku mamanda). Dan kalo lanjut dengan kondisi Ibunya gak setuju, MANA ENAK MUSUHAN SAMA MERTUA hiiiy…naudzubillahimindzaliik, PLEASE NEVER THINK ABOUT THIS OPTION, gak berkah lho (ini jg hasil konsultasi dengan mama dan forum bibi-bibi ceriwis)

Akhirnya, selesai lah, FINISH,  pernikahan tetap tinggal wacana. Tapi rasa kecewa menggunung, kekecewaan karena telah menghabiskan waktu yang begitu lama hanya untuk memutuskan TIDAK, membuat semua investasi waktu, energi, pulsa (meski dulu komunikasinya pake sms gratisannya Indosat jg hahaha, memalukan banget), dan kiriman oleh-oleh buat camer yang gak jadi itu serasa SIA SIA, karena Cuma bikin kenyang gak bikin tersentuh hahahaha.

Di sela-sela masa depresiku, diriku yang dudul lalu berdoa, doanya kek gini ‘ya ALLAH, saya cape bengeeeet deh mau nikah aja kok repot sekali. Sekarang saya pasrah saja sama ALLAH, kalo dalam waktu dekat ini datang seseorang yang melamar, maka kalau memang jodoh itu terbaik buat saya, buat keluarga, buat agama saya, maka jadikan dia suami saya meski saya gak mau atau merasa kesusahan atau enggan menjalani prosesnya, dan kalo dia bukan jodoh terbaik bagi saya, jauhkanlah dia dari saya meski saya sangat menginginkannya.’ Sekilas doanya subhanallah kan J

Yang nggak enak doa penutupnya hehe, jadi berasa aming di doa yang mengancam deh, doanya begini ‘satu lagi y ALLAH, kalo yang datang nanti masi bukan jodohku, saya sudah putuskan tidak akan menikah, saya kan sudah ikhtiar. Amiin’ (pleaaaasee…never try this never even dare to think about this, Cuma orang stress aja yang doanya kaya begini…astaghfirullah maaf ya ALLAH)

 Seminggu gak masuk kantor, nangis sampe mata segede bakso rudal—sekali lagi ini hanya efek lebay biar cerita seru, faktanya cm super sembab aja kok sampe matanya susah micing. Puas nangis, masuk kantor lagi, tapi dasar orang lagi stress y, masuk kantor bukan kerja tapi minta resign—hiks padahal lagi butuh duiiit banget hihihi.

Pokoknya diriku menjalani peran stress dengan SERIUS dan PENUH PENGHAYATAN…mengikhtiarkan seluruh daya dan upayaku buat menunjukkan kesetresanku, mengekspresikan seluruh derita yang sedang kurasakan, menampilkan perasaan diperlakukan tidak adil oleh Allah…khas banget orang setres deh :p
Padahal, U KNOW WHAT PEMIRSA, Allah sedang mempersiapkan kejutan manis untukku. Saat itu diriku terlalu sibuk meratapi dan menjalani peranku sebagai KORBAN a.k.a MANUSIA TERMALANG DI DUNIA (dangduuut bukan..??) sampe gak nyadaaar …dasar manusia

Rasanya tidak sampai sebulan kemudian, kira-kira 3 minggu saja aq malah sudah mempersiapkan pernikahan dengan kanda (ehm ralat…mamaku yang menyiapkan pernikahanku dengan kanda xixi). Mengingat penghayatan peranku yang meyakinkan, kanda sebagai teman ceritanya terenyuh dan datang ke rumah Cuma sekedar ngajak ngobrol saja. Tapi mamanda melihat hal ini sebagai kesempatan mendapatkan menantu (mengharukan bukan…gini nih kasih sayang ibu, sampe calon suami aja diincerin), maka mulai gencarlah beliau meminta bantuan kanda buat nganter-nganter beliau, berhubung diriku yang temennya kanda disuruhlah daku menemani, alasannya gak ada yang bisa nyupir (padahal papanda itu berjiwa supir banget lhooo…).

Anehnya pasca acara antar mengantar selesai, kok kanda masih sering datang ke rumah, bahkan setelah pulang kantor pun. Akhirnya, bilang juga kalo ternyata ada maksud (lebih tepatnya dipaksa jawab soalnya diriku yang nanya duluan..agresif banget yah). Lalu kubilang, diriku gak minat pacaran, kalo mau ngomong sama orang tua. Prosesnya kilat sodara-sodara, esok hari kanda bilang sama mama, dua hari kemudian dia pulang, hari ketiga kakak dan ayahnya datang melamar, hari keempat kanda ngobrol sama mama tentang tanggal (perkiraanku sih pengennya 3 bulan setelah lamaran biar tenang) dan di hari keempat ini mamaku bilang ‘oke deh, kalo memang serius gak usah lama-lama, nikahnya minggu depan saja’ . Asli kuageeeeet banget, gak Cuma diriku, kanda juga soalnya dia kan belum siapin dananya. Lalu dengan alasan itu pula mencoba mengundur tanggal, dan mamanda Cuma menjawab gini ‘kalo soal uang, nanti atau sekarang sama saja. Tapi betul juga sih, minggu depan belum pada gajian, nanti pada gak punya ongkos buat datang, ya udah, minggu depannya lagi deh’ (itulah menakjubkannya mamanda, penuh optimisme )

Anyway, udah mulai capek ngetik nih, padahal kalo diceritain gak banyak tapi diketik banyak juga y hehe

Singkat cerita, menikahlah kami, and so far our marriage is MARVELOUS! :)
Kini, seringkali diriku mengenang kembali episode ‘BURUK’ tersebut, tapi kali ini tidak lagi dengan air mata, kini kumengenang semua episode itu dengan senyum mengembang di bibir :)
Malahan, itu jadi bahan obrolan paling asyik sama kanda. So, as you can see for yourself (itu juga kalo masih bersabar bacanya hehehe) SEMUA YANG BURUK TAK SELALU BERAKHIR BURUK. If it works for me, it works for you too. And I’m thankfull, Allah menggantikannya dengan berkah yang tak terhingga Kanda alias Ayah Naafi, dan Kanz Naafi—Our son. Alhamdulillaah…semoga Allah mengampuni diriku yang seringkali terlalu serius dan berprasangka buruk sama Allah, padahal Allah menyiapkan kejutan indah buat kita. THANKS FOR THE SURPRISE, O DEAR ALLAH :)

Eva—currently living happily on LDR mode for 4 years
Kisah ini diikutsertakan pada "A Story Pudding For Wedding" yang diselenggarakan oleh Puteri Amirillis dan Nia Angga

7 komentar:

  1. teh ini blm didaftarken?banner nya jg blm ada :)
    happy weekend

    BalasHapus
  2. sudah sudah..niy dibantuin masang bannernya, ternyata gara2 gaptek gak bisa pasang link di banner hehehe
    tengkyuh yaaaks

    BalasHapus
  3. sekarang mah tinggal daftar atuh

    BalasHapus
  4. duh kisah yang mengharukan teh, kayanya kisah kita ampir2 mirip juga,hehhe...
    makasih ya teteh sayang udah ikutan story pudding

    BalasHapus
  5. teh poyyy tetep semangat, semoga segera berkumpul dengan keluarga yaa.. amien

    BalasHapus
  6. @puteri: baru baca komennyaaah hihihi, jadi pengen denger cerita dirimu deh..yuuuks mariii
    @nia: amiin...sepenuh hati banget nih amiinnya

    BalasHapus
  7. Akhirnya malah kepasrahan pada keputusanNya yang membawa kebahagiaan ya mbak :)

    BalasHapus