Rabu, 12 Oktober 2011

Dia Masih Tua Kecil..

Alhamdulillah bisa ngeblog lagi, gak nulisnya kelamaan nih...

Naafi-ku (hmm padahal tau tuh gak boleh nulis begitu) tumbuh sehat alhamdulillah, kata orang-orang dia termasuk lebih besar dari ukuran rata-rata anak seumuran naafi (3 tahun 5 bulan). Naafi sudah pintar berargumentasi denganku. Kami bersepakat untuk membangun dialog dengan anak.

kebetulan hari minggu kemarin ayah dan bunda punya waktu jalan-jalan bareng naafi ke arena permainan yang belakangnya zone zone gitu (gak enak ah kalo sebut namanya, takut jadi promosi hehe). sebenernya gak sreg main kesana, tapi bunda pikir sekali-kali sambil bunda belanja bulanan gapapa deh.

jadi deh, selese belanja main-main bareng ayah di X-zone itu, sementara bunda ngambil undian hadiah belanja shampo. biasa emak-emak gak boleh lewatin yang namanya undian, barang gratisan atau bonus-bonus belanja (rasanya rugii banget hihi)...padahal setelah ngurus-ngurus undian kira-kira 20 menit juga dapatnya cuma sebungkus mi instan (lho mesti disyukuri tuuh bun..^^)

selese urus-urus undian, balik deh ke arena permainan itu, dan melihat ayah lagi nungguin naafi yang mogok di depan permainan tembak-tembakan. Bunda tahu banget, naafi penasaran sama yang namanya permainan yang ada tembak-tembakannya. Tapi karena bunda gak mau naafi main tembak-tembakan, reaksi pertama langsung bilang "tidak ya na, ayo kita main yang lain, ini permainan untuk orang dewasa". Naafi balik bertanya, "kalo afi sudah dewasa boleh main tembakan?"
karena pengen buru-buru ngajak naafi pergi dari permainan tembakan itu, bunda dengan buru-buru juga menjawab sekenanya, "ya, boleh"

Acara week end dah lewat, hari berlalu seperti biasa. Naafi sekolah di bogor, ayah kerja di bandung, bunda kuli di jakarta. Sepulang kerja, seperti biasa bunda ngobrol bareng naafi. Tiba-tiba naafi laporan, "bunda tadi aku makannya banyak, aku sudah dewasa bunda"
tuiing, nah lho jawabnya gimana, otak reptilku bekerja, "dewasa itu yang tinggi seperti om-om nak" (jawaban yang desperate banget yaks--sigh)
afi gak mau kalah, dia lalu jawab gini " aku juga sudah tinggi sekali seperti om-om, karena aku makan daging"
sekali lagi panik, heeeelp, otak reptil kembali terdesak mengeluarkan jawaban, "dewasa itu kalau sudah berjenggot seperti om-om, dan ayah-ayah"
naafi jawab, "aku juga sudah ada jenggotnya kaya om-om, nih" sambil menunjukkan dagunya pada bunda
"aku sudah makan sayuran bunda makanya ada jenggot"
"sekarang boleh kan main tembakan bunda?"
"tapi itu mainan untuk dewasa" tukasku
"aku sudah dewasa!" nadanya agak meninggi kali ini
Bunda masih keukeuh mencoba menjelaskan konsep dewasa, "afi masih dewasa kecil, kalau afi mau tembakan mesti dewasa tua seperti ayah yang jenggotnya hitam-hitam" (iiiih apa ituuh, bunda aja yang jelasin dan bikin istilahnya binguuung)
Naaafi tampak menerima penjelasan itu, dia pun menanggapi kalimat bunda dengan awal ooo yang bunda artikan setuju, kaya gini nih "oooo gitu...kalo afi makan sayur terus jenggot afinya jadi hitam-hitam afi boleh main tembakan, gituh bunda?"
Melihat aura bendera putih, bunda pun dengan segera mengiyakan, dan beralihlah pembicaraan kami ke superman, ultraman, dan maman maman lainnya.

Esok harinya, si bunda inih dapat laporan dari emak yang ngasuh naafi, kalo naafi makannya semangat banget, sampe 5 kali sehari--giraaaang deh, dalam hati berpikir 'anak bunda pinter gak kaya anak lain yang susah makan hehehe, bangga deeh'
berlanjut dengan pujian buat naafi, "naafi tadi kata emak afi makannya hebat deh, semangat"
naafi dengan semangat menjawab, "iya bunda, sekarang tiba-tiba afi udah tinggi nih, jenggotnya juga udah hitam-hitam. "afi sekarang sudah tua kecil, boleh main tembakan kan?"
haaaah apalagi itu...otak reptil bunda sudah tak kuasa lagi membikin-bikin teori palsu kaya pacarnya ayu ting-ting.

mestinya bunda tau, naafi baru 3,5 tahun, banyak lagi masih yang harus dipelajari tentang berkomunikasi dengan anak pra sekolah, dan banyak lagi yang harus bunda lakukan untuk memperbaiki ajaran sesat itu. Mesti belajar bersabar dan mendahulukan kebutuhan anak, daripada sekedar keinginan bunda, yang kemudian hanya menghasilkan penjelasan terburu-buru, dan menanamkan konsep ajaran sesat tentang dewasa. yang gampang mungkin dihipnotis aja yah, kayak komputer di-format jadi bisa mulai lagi dari awal, tapi kan gak bisa gitu (secara gak bisa hipnotis juga).

Sadarilah bunda, anakmu masih (tua) kecil, belajar, bersabar, berusaha, berdoa, iringi dengan cinta, semoga masih sempat untuk memperbaiki kesalahan ini. Karena bunda masih ingin naafi tumbuh secara wajar, bukannya dewasa terlalu cepat.

Ada yang punya ide tentang mencegah anak dari game-game tembakan seperti itu? Butuh ide dan pencerahan nih ^^'

3 komentar:

  1. hahahahahahaha...
    salam sayang buat si (tua) kecil ya tehh

    BalasHapus
  2. salam balik buat dedek arya (naafi dah diajarin ayra tapi masih susah nyebutnya ^^)

    BalasHapus
  3. iya ya teh umar juga pernah pingin tembakan, dibeliinlah ama abinya tembakan murah yg belinya di klender (masih satu sodara ama gembrong). ternyata kan main tembakan itu ga baik ya untuk mental anak. jadinya sekarang dialihin ke mainan lain, dia suka excavator, crane, truk. diarahin ke yg bukan tembakan deh. salam sayang u naafi ya teh

    BalasHapus